Kamis, 02 Mei 2013

Warkop DKI


Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang !!!


Warkop atau sebelumnya Warkop Prambors, juga kemudian dikenal sebagai Trio DKI adalah grup lawak yang dibentuk oleh Nanu (Nanu Mulyono), Rudy (Rudy Badil), Dono (Wahjoe Sardono), Kasino (Kasino Hadiwibowo) dan Indro (Indrodjojo Kusumonegoro). Nanu, Rudy, Dono dan Kasino adalah mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Jakarta sedangkan Indro kuliah di Universitas Pancasila, Jakarta. Mereka pertama kali meraih kesuksesan lewat acara Obrolan Santai di Warung Kopi yang merupakan garapan dari Temmy Lesanpura, Kepala Bagian Programming Radio Prambors. Acara lawakan setiap Jumat malam antara pukul 20.30 hingga pukul 21.15, disiarkan oleh radio Prambors yang bermarkas di kawasan Mendut, Prambanan, Borobudur, alias Menteng Pinggir.

Dalam acara itu, Rudi Badil dalam obrolan sering berperan sebagai Mr. James dan Bang Cholil. Indro yang berasal dari Purbalingga berperan sebagai Mastowi (Tegal), Paijo (Purbalingga), Ubai atau Ansori. Kasino yang asli Gombong perannya bermacam-macam: Mas Bei (Jawa), Acing/Acong (Tionghoa), Sanwani (Betawi) dan Buyung (Minang). Nanu yang asli Madiun sering berperan sebagai Poltak (Batak) sedangkan Dono sendiri hanya berperan sebagai Slamet (Jawa).



Sejarah berdirinya warkop

Ide awal obrolan Warkop Prambors berawal dari dedengkot radio Prambors, Temmy Lesanpura. Radio Prambors meminta Hariman Siregar, dedengkot mahasiswa UI untuk mengisi acara di Prambors. Hariman pun menunjuk Kasino dan Nanu, sang pelawak di kalangan kampus UI untuk mengisi acara ini. Ide ini pun segera didukung oleh Kasino, Nanu, dan Rudy Badil, lalu disusul oleh Dono dan Indro.

Rudy yang semula ikut Warkop saat masih siaran radio, tak berani ikut Warkop dalam melakukan lawakan panggung, karena demam panggung (stage fright). Dono pun awalnya saat manggung beberapa menit pertama mojok dulu, karena masih malu dan takut. Setelah beberapa menit, barulah Dono mulai ikut berpartisipasi dan mulai kerasan, hingga akhirnya terus menggila hingga akhir durasi lawakan. Indro adalah anggota termuda, saat anggota Warkop yang lain sudah menduduki bangku kuliah, Indro masih pelajar SMA.

Pertama kali Warkop muncul di pesta perpisahan (kalau sekarang prom nite) SMA IX yang diadakan di Hotel Indonesia. Semua personel gemetar, alias demam panggung, dan hasilnya hanya bisa dibilang lumayan saja, tidak terlalu sukses. Namun peristiwa pada tahun 1976 itulah pertama kali Warkop menerima honor yang berupa uang transport sebesar Rp20.000. Uang itu dirasakan para personel Warkop besar sekali, namun akhirnya habis untuk menraktir makan teman-teman mereka. Berikutnya mereka manggung di Tropicana. Sebelum naik panggung, kembali seluruh personel komat-kamit dan panas dingin, tapi ternyata hasilnya kembali lumayan.

Baru pada acara Terminal Musikal (asuhan Mus Mualim), grup Warkop Prambors baru benar-benar lahir sebagai bintang baru dalam dunia lawak Indonesia. Acara Terminal Musikal sendiri tak hanya melahirkan Warkop tetapi juga membantu memperkenalkan grup PSP (Pancaran Sinar Petromaks), yang bertetangga dengan Warkop. Sejak itulah honor mereka mulai meroket, sekitar Rp 1.000.000 per pertunjukan atau dibagi empat orang, setiap personel mendapat no pek go ceng (Rp 250.000).

Mereka juga jadi dikenal lewat nama Dono-Kasino-Indro atau DKI (yang merupakan pelesetan dari singkatan Daerah Khusus Ibukota). Ini karena nama mereka sebelumnya Warkop Prambors memiliki konsekuensi tersendiri. Selama mereka memakai nama Warkop Prambors, maka mereka harus mengirim royalti kepada Radio Prambors sebagai pemilik nama Prambors. Maka itu kemudian mereka mengganti nama menjadi Warkop DKI, untuk menghentikan praktik upeti itu.


Personil

Dari semua personel Warkop, mungkin Dono lah yang paling intelek, walau ini agak bertolak belakang dari profil wajahnya yang 'ndeso' itu. Dono bahkan setelah lulus kuliah menjadi asisten dosen di FISIP UI tepatnya jurusan Sosiologi. Dono juga kerap menjadi pembawa acara pada acara kampus atau acara perkawinan rekan kampusnya. Kasino juga lulus dari FISIP. Selain melawak, mereka juga sempat berkecimpung di dunia pencinta alam. Hingga akhir hayatnya Nanu, Dono, dan Kasino tercatat sebagai anggota pencinta alam Mapala UI.


Era film

Setelah puas manggung dan mengobrol di udara, Warkop mulai membuat film-film komedi yang selalu laris ditonton oleh masyarakat. Dari filmlah para personel Warkop mulai meraup kekayaan berlimpah. Dengan honor Rp 15.000.000 per satu film untuk satu grup, maka mereka pun kebanjiran uang, karena tiap tahun mereka membintangi minimal 2 judul film pada dekade 1980 dan 1990-an yang pada masa itu selalu diputar sebagai film menyambut Tahun Baru Masehi dan menyambut Hari Raya Idul Fitri di hampir semua bioskop utama di seluruh Indonesia.


Era televisi

Dalam era televisi swasta dan menurunnya jumlah produksi film, DKI pun lantas memulai serial televisi sendiri. Serial ini tetap dipertahankan selama beberapa lama walaupun Kasino tutup usia pada tahun 1997. Setelah Dono juga meninggal pada tahun 2001, Indro menjadi satu-satunya personel Warkop. Sedangkan Nanu sudah meninggal tahun 1983 karena sakit liver dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta.


Proses kreatif

Kelebihan Warkop dibandingkan grup lawak lain, adalah tingkat kesadaran intelektualitas para anggotanya. Karena sebagian besar adalah mahasiswa (yang kemudian beberapa menjadi sarjana), maka mereka sadar betul akan perlunya profesionalitas dan pengembangan diri kelompok mereka.

Ini dilihat dari keseriusan mereka membentuk staf yang tugasnya membantu mereka dalam mencari bahan lawakan. Salah satu staf Warkop ini kemudian menjadi pentolan sebuah grup lawak, yaitu Tubagus Dedi Gumelar alias Miing Bagito.

Saat itu Miing mengaku bahwa ia ingin sekali menjadi pelawak, dan kebetulan ia diterima menjadi staf Warkop. Kerjanya selain mengumpulkan bahan lawakan, melakukan survei lokasi (di kota atau daerah sekitar tempat Warkop akan manggung), kalau perlu melakukan pekerjaan pembantu sekalipun seperti menyetrika kostum para personel Warkop. Ini dilakukan Miing dengan serius, karena ia sadar disinilah pembelajaran profesionalitas sebuah kelompok lawak. Miing sempat ikut dalam kaset warkop dan film warkop, sebelum akhirnya membentuk kelompok lawak sendiri bersama Didin (saudaranya) dan Hadi Prabowo alias Unang yang diberi nama Bagito (alias Bagi Roto).


Filmografi

Mana Tahaaan... (1979) bersama Elvy Sukaesih, Rahayu Effendi dan Kusno Sudjarwadi
Gengsi Dong (1980) bersama Camelia Malik, Zainal Abidin dan M. Pandji Anom
Pintar Pintar Bodoh (1980) bersama Eva Arnaz, Debby Cynthia Dewi dan Dorman Borisman
GeEr - Gede Rasa (1980) bersama Dorman Borisman, Ita Mustafa dan Itje Trisnawati
Manusia 6.000.000 Dollar (1981) bersama Eva Arnaz, Eddy Gombloh dan Wolly Sutinah
IQ Jongkok (1981) bersama Enny Haryono, Marissa Haque, dan Bokir
Setan Kredit (1981) bersama Minati Atmanegara, Nasir dan Alicia Djohar
Dongkrak Antik (1982) bersama Meriam Bellina, Mat Solar dan Pietrajaya Burnama
Chips (1982) bersama Sherly Malinton, Tetty Liz Indriati dan M. Pandji Anom
Maju Kena Mundur Kena (1983) bersama Eva Arnaz, Lydia Kandou dan Us Us
Pokoknya Beres (1983) bersama Eva Arnaz, Nourma Yunita dan Us Us
Itu Bisa Diatur (1984) bersama Ira Wibowo, Pong Hardjatmo dan Aminah Cendrakasih
Tahu Diri Dong (1984) bersama Eva Arnaz, Lydia Kandou dan Us Us.
Kesempatan Dalam Kesempitan (1985) bersama Lydia Kandou, Nena Rosier dan Kaharuddin Syah.
Gantian Dong (1985) bersama Ira Wibowo, Lia Warokka dan Advent Bangun
Atas Boleh Bawah Boleh (1986) besama Eva Arnaz, Dian Nitami dan Wolly Sutinah
Sama Juga Bohong (1986) bersama Ayu Azhari, Nia Zulkarnaen, dan Chintami Atmanegara
Depan Bisa Belakang Bisa (1987) bersama Eva Arnaz dan HIM Damsyik
Makin Lama Makin Asyik (1987) bersama Meriam Bellina, Susy Bolle dan Timbul
Saya Suka Kamu Punya (1987) bersama Doyok dan Didik Mangkuprojo
Jodoh Boleh Diatur (1988) bersama Raja Ema, Silvana Herman dan Nia Zulkarnaen
Malu-Malu Mau (1988) bersama Nurul Arifin, Pak Ogah dan Sherly Malinton
Godain Kita Dong (1989) bersama Lisa Patsy, Ida Kusumah dan Tarsan
Sabar Dulu Doong...! (1989) bersama Anna Shirley, Pak Tile dan Eva Arnaz
Mana Bisa Tahan (1990) bersama Nurul Arifin, Zainal Abidin dan Sally Marcellina
Sudah Pasti Tahan (1991) bersama Nurul Arifin, Sherly Malinton dan Diding Zeta
Bisa Naik Bisa Turun (1991) bersama Kiki Fatmala, Fritz G. Schadt dan Sally Marcellina
Lupa Aturan Main (1991) bersama Eva Arnaz, Fortunella dan Hengky Solaiman
Masuk Kena Keluar Kena (1992) bersama Kiki Fatmala, Robert Syarif dan Sally Marcellina
Salah Masuk (1992) bersama Gitty Srinita, Tarida Gloria dan Angel Ibrahim
Bebas Aturan Main (1993) bersama Lella Anggraini, Gitty Srinita dan Diah Permatasari
Bagi-Bagi Dong (1993) bersama Kiki Fatmala dan Inneke Koesherawati dan HIM Damsyik
Saya Duluan Dong (1994) bersama Diah Permatasari, Gitty Srinita dan HIM Damsyik
Pencet Sana Pencet Sini (1994) bersama Sally Marcellina, Pak Tile dan Taffana Dewi

Rabu, 01 Mei 2013

Mengapa Kita Lebih Mendukung Klub Luar Negeri ?

FENOMENA UNIK DI NEGERI PECINTA SEPAK BOLA
Mana yang lebih Anda suka? Sebuah klub asal Inggris atau klub dari kota kelahiran Anda?

Indonesia adalah sebuah negeri besar yang mayoritas penduduknya menyukai, menggilai, bahkan mencintai sepakbola. Sebuah olah raga yang sering kita lihat dimainkan siapapun dimana-mana mulai dari lapangan sepakbola, lapangan futsal, hingga lahan kosong dengan modal dua pasang sandal jepit yang dijadikan gawang. Namun pernahkah Anda sadari fenomena unik yang terjadi pada masyarakat Indonesia dimana kita jauh lebih fanatik mendukung klub luar macam Barcelona, Manchester United, maupun AC Milan ketimbang Persija, Persib, dan Persebaya? Coba lihat lemari Anda, apakah Anda mempunyai jersey klub lokal kota Anda?

Atas dasar fenomena tersebut saya melakukan riset kecil-kecilan dan bertanya kepada beberapa orang yang menggilai sepakbola, mulai dari mereka yang menjadi suporter klub asal luar negeri, hingga mereka yang bahkan menggilai timnas negara lain.

"Gw si jujur aja ga suka pertandingan liga Indonesia, permainannya gak seru, cenderung lambat, dan kualitasnya yang kurang oke. Gw nonton bola si murni untuk hiburan, dan wajarlah kalo gw lebih suka permainan yang berkualitas."
-Anji, Mahasiswa, Fans Barcelona FC-

Sebuah pernyataan yang menarik dari Anji, sebagai penggila bola yang murni mencari hiburan, pernyataannya bahwa ia lebih menyukai permainan berkualitas rasanya sangat masuk akal. Faktanya memang harus diakui bahwa kualitas liga luar jauh lebih baik dan menarik untuk ditonton kita. Mulai dari segi permainan, infrastruktur, hingga wasit yang memimpin pertandingan.

Bukannya gak mau dukung klub kota lokal sih, cuman fan base klub lokal biasanya bikin males, ngerusak, seenaknya aja, jadi mau dukung ke stadion juga males, padahal pengen juga si nonton Persija langsung di stadion, biar gw dukung klub luar, gw kan tetep orang Jakarta.
-Rizki, Praktisi Hukum, Fans Manchester United-

Lain lagi dengan pernyataan Rizki diatas, berbeda dengan Anji yang mempermasalahkan kualitas liga, Rizki lebih melihat faktor fan base klub lokal yang menjadi penghalang baginya untuk mendukung Persija Jakarta. Yup, another true statement, faktanya banyak diantara kita yang tidak menyukai dunia sepakbola Indonesia berdasarkan fan base yang telah dimiliki klub-klub lokal. Kita ambil contoh Persija, sebagai klub besar di Indonesia, Persija seharusnya mendapat banyak dukungan dari semua warga yang tinggal di Jakarta. Namun justru yang ada banyak warga Jakarta yang tidak menyukai Persija dan seringkali mengeluh jika Persija akan bertanding di Jakarta, alasannya? Maaf, The Jak sebagai fan base utama Persija seringkali lebih meresahkan warga Jakarta dengan kelakuannya yang sering merusak dan semena-mena.

Kualitas pemain Indonesia parah banget, sebagai penonton gw sih gak terhibur, gw murni nyari hiburan aja lewat bola, jadi sorry to say, gw si hampir gak pernah nonton liga Indonesia di TV, apalagi di stadion. Cuman untuk urusan timnas si beda dong, Indonesia tetep nomor satu, biar kualitas masih belum oke cuman harus didukung dong! ;
-Reza, Fotografer, Fans AC Milan-

Lagi-lagi soal kualitas, alasan mencari kualitas permainan demi hiburan kembali menjadi alasan yang kali ini datang dari Reza seorang fotgrafer muda yang menjadi fans setia AC Milan. Namun sama seperti kebanyakan masyarakat, meski ia menjadi pendukung klub asal luar negeri baginya jika timnas Indonesia bermain, itulah yang nomor satu, kualitas bukan lagi penghalang, namun baginya timnas Indonesia tetap harus didukung.

Sekarang bagaimana dengan Anda? Saya yakin kebanyakan dari Anda pasti lebih mendukung klub asal luar negeri dibanding klub lokal. Pasti lebih banyak dari Anda yang mempunyai jersey-jersey Barcelona, Man Utd, Arsenal, Inter Milan dibanding Persija, Persipura dan sebagainya. Namun setujukah Anda dengan pernyataan-pernyataan diatas yang menyebutkan rendahnya kualitas persepakbolaan Indonesia hingga minimnya dukungan dari warga? Atau Anda lebih setuju dengan alasan Rizki yang mengkambing hitamkan fan base klub lokal dikotanya yang kurang bertanggung jawab? Apapun alasan Anda itulah hak Anda, namun pesan kecil dari saya, jangan pernah lupakan perjuangan tim nasional Indonesia, memang kualitas mereka belum maksimal dan kalah jauh dibanding kualitas negara-negara Eropa, namun tetap saja mereka mewakili Indonesia, negeri kita tercinta!

Sumber : Mancuniangel Indonesia http://www.facebook.com/photo.php?fbid=628651457162689&set=a.222895257738313.70967.222356024458903&type=1

Final Liga Champions Sesama Negara Jilid 4 Akhirnya Terjadi



Bayern Munich dan Borussia Dortmund akhirnya mewujudkan final sesama tim asal Jerman di Liga Champions musim ini. Ini adalah kali keempat final tim dari negara yang sama terjadi di Liga Champions.

Munich dipastikan menyusul Dortmund ke final Liga Champions setelah menekuk Barcelona 3-0 di leg 2 semifinal, Rabu 1 Mei 2013 waktu setempat (Kamis dini hari WIB). Die Roten melangkah ke final dengan agregat kemenangan 7-0.

Ini adalah kali keempat tim dari negara yang sama saling bertemu di final Liga Champions. Sedangkan untuk Jerman, ini adalah kali pertama ada dua tim Bundesliga saling berhadapan di final Liga Champions.

Satu-satunya final sesama tim Jerman di kompetisi Eropa terjadi pada final Piala UEFA 1979/1980. Ketika itu, Eintracht Frankfurt sukses mengalahkan Borussia Monchengladbach.

Sebelumnya, ada tiga final sesama negara di pentas Liga Champions. Pertama, terjadi ketika Real Madrid mengalahkan Valencia 3-0 pada final Liga Champions 2000 yang berlangsung di Stade de France, Paris.

Kedua, ada final sesama raksasa Serie A, Juventus melawan AC Milan, pada 2003. Pada pertandingan yang berlangsung di markas Manchester United, Old Trafford, itu I Rossoneri berhasil mengalahkan Juventus lewat drama adu penalti.

Final sesama negara ketiga terjadi pada 2008. Ketika itu Manchester United menghadapi Chelsea di Stadion Luzhniki, Moskow. The Red Devils yang masih diperkuat Cristiano Ronaldo berhasil mengalahkan Chelsea lewat adu penalti, setelah pertandingan berakhir imbang 1-1 selama 120 menit.