Sebuah penghormatan terhadap para
ikon terbesar dalam sejarah dunia musik populer Indonesia, oleh para rekan
seperjuangan dan pengikut jejak. Legenda adalah kata yang sering diumbar saat membicarakan
seseorang yang signifikan. Begitu seringnya kata tersebut digunakan, hingga
rasanya siapa saja dapat dikatakan legenda. Konsep itu memang relatif, di mana
tiap orang memiliki pemahaman dan interpretasinya sendiri tentang apa yang
menjadikan seseorang lebih bermakna dan berprestasi dibanding rekan-rekannya
yang bisa jadi tak kalah berjasa. Kalau kita bertanya kepada 100 orang tentang
siapa yang layak disebut legenda, bisa jadi kita akan mendapat 100 jawaban yang
berbeda-beda. Kini, kami akan mencoba menawarkan jawaban yang lebih pasti.
1.
Koes Plus
Oleh
Erwin Gutawa
Serapan yang dapat diteladani
dari Koes Plus adalah produktivitas mereka. Sampai saat ini kalau tidak salah
mereka telah menelurkan 93 album. Dari mulai 26 buah album penuh hingga puluhan
lainnya dari mulai album pop, pop melayu, pop jawa, dangdut, hingga pop
anak-anak. Koes Plus bagaikan mesin musik dengan produktivitas setinggi langit.
Satu lagi, sampai saat ini mungkin hanya Koes Plus yang memiliki fans club di
seluruh penjuru nusantara, tak sedikit pula yang terorganisir. Ini bukan karena
tindakan manajemen band [seperti yang banyak dilakukan band zaman sekarang],
melainkan dilakukan swakarsa para penggemar yang selalu mencintai Koes Plus.
Seperti saya mencintai Koes Plus.
2.
Iwan Fals
Oleh
Bimbim Slank
Inspirasi dan sifat kritis Slank
ber-asal dari Iwan Fals. God Bless boleh besar secara musikal dan band, tapi
secara simpati, Iwan Fals lebih besar karena liriknya lebih membumi, sementara
lirik God Bless lebih ke arah macho. Itu yang saya pelajari. Bahwa salah
satunya, music is music, tapi akan jadi lebih bermakna kalau kita put something
on it. Salah satunya dengan semangat, lirik, dan protes sosial. Dan saya juga
mempelajari kondisi di luar. Musisi yang bertahan panjang itu biasanya musisi
yang memberikan sesuatu di dalam musiknya, seperti Bob Marley, Bob Dylan, Sex
Pistols. Mereka semua memuat fighting spirit. Di Indonesia, saya lihat itu ada
pada Iwan Fals. Kita banyak melupakan itu. Anak band yang muda-muda di awal
karier pasti punya banyak masalah. Hanya saja karena industri, semua orang
menulis cinta, atau antinarkoba. Justru di Iwan Fals, saya jadi berkaca, bahwa
tema untuk membuat lagu ternyata luas.
3.
Chrisye
Oleh
Erros Djarot
Ada cerita menarik tentang lagu
Merpati Putih yang saya ciptakan dan ia nyanyikan. Struktur lagunya memang
pendek. Ia bilang, Ros, lagunya cuma segini? Nggak- diulangi lagi? Saya bilang,
Nggak perlu. Ini seperti makan singkong, sedikit tapi kenyang. Chrisye
sebenarnya ingin lagu itu lebih panjang lagi. Kemudian Merepih Alam. Itu
pertama kalinya Chrisye menciptakan lagu sendiri. Setelah mendengar musik
dasarnya, saya arahkan dan bentuk lagunya. Oleh karena itulah kredit lagu
ditulis atas nama saya dan Chrisye. Setelah rampung, ia berkomentar membuat
lagu itu ternyata gampang. Saya bilang, Elo aja yang penakut, apalagi elo main
musik jauh lebih bagus dari gue. Menurut saya, kelemahan Chrisye adalah kurang
dekat dengan peristiwa-peristiwa sosial. Ia juga kurang suka membaca. Tipikal
lempeng-lempeng saja. Terkadang kalau kami ngobrol dan membahas politik, dia
suka ketakutan duluan. Beda dengan Yockie yang sangat politis.
4.
Benyamin S.
Oleh
David Naif
Saya pernah ke kuburannya sekali
waktu, setelah memakamkan ayah Emil di kompleks kuburan yang sama. Makamnya
tidak mewah, tidak seperti makam-makam legenda yang kita pikir. Dia harusnya
dijadikan semacam pahlawan, orang khusus. Apalagi di Jakarta, harusnya dibuat
monumen atau patungnya. Sudah pantas. Bisa dibilang tokoh Betawi paling
penting, ya dia. Dia yang mengangkat budaya Betawi. Lagu Betawi banyak yang
jadi luar biasa begitu dia bawakan, orang-orang jadi banyak mendengar lagu
Betawi gara-gara Benyamin. Kalau orang bilang ada pengaruhnya terhadap musik
Naif, mungkin secara tidak langsung ada, karena saya banyak mendengar dia.
Jadi, apa yang saya dengar kadang-kadang masuk. Cuma, saya akui tak akan bisa
membuat seperti dia. Mungkin ada orang dengan suara seperti dia, tapi belum
tentu soul-nya bisa se-perti itu, untuk mengekspresikannya pasti beda. Saya
ingin seperti dia, ekspresifnya tidak ada yang ditutupi.
5.
Ismail Marzuki
Oleh
Addie MS
Jika Anda perhatikan penggalan
lirik, Di sana tempat lahir beta/Dibuai dibesarkan bunda, itu adalah kalimat
yang sangat menyentuh. Tanpa dibungkus melodi, kalimat tersebut dapat membuat
orang menangis, merindu, dan tersentuh. Hebatnya, lirik tersebut dibungkus
de-ngan musik yang benar-benar pas dijadikan latar belakang penggambaran
Indonesia. Lagu itu diakhiri dengan sebuah janji yang berbunyi, "Tempat
berlindung di hari tua/Sampai akhir menutup mata, dengan melodi yang juga
sungguh kaya. Atau Anda dapat perhatikan baik-baik pada lagu Rayuan Pulau
Kelapa, Ismail Marzuki dengan sangat tepat menggambarkan alam Indonesia yang
tenang dan damai. Lirik "Tanah airku aman dan makmur/Pulau kelapa yang
amat subur/Pulau melati pujaan bangsa/Memuja pulau nan indah permai/ Tanah
Airku, Indonesiaku, terde-ngar sederhana namun dapat merepresentasikan alam
Indonesia yang sebenarnya.
6.
Slank
Oleh
Eross Candra
Saya adalah salah satu dari
jutaan anak yang tumbuh dengan musik Slank di era awal 90-an. Bagi saya,
sebelumnya musik hanya sekadar bernyanyi dan bermimpi. Tapi saat mereka muncul,
musik adalah suatu pilihan yang bisa menjadi gaya hidup dan inspirasi, pola
pikir generasi 90-an. Di segi musikalitas, Slank adalah band rock & roll
yang bercita rasa Indonesia. Saya berani bertaruh, belum tentu musisi bule bisa
membuat atau memainkan komposisi seperti mereka. Lirik cinta tidak perlu
diragukan, lirik politik lebih mencerdaskan bangsa dibanding berita di TV yang
banyak ditutup-tutupi kepalsuan zaman Orde Baru. Dan yang terunik bagi saya
adalah lirik-lirik yang bercerita tentang suatu konsep yang menjadi GBHS ([aris
Besar Haluan Slank] di masa kini. Saya tidak akan lupa bagaimana lagu Pulau
Biru dan Ge-nerasi Biru menjadi lagu wajib lahir dan batin saya dan
teman-teman.
7.
Guruh Soekarno Putra
Oleh
Sari White Shoes
Salah satu karyanya yang menurut
saya menarik adalah Surya Gemilang-. Beberapa orang mungkin tidak ba-nyak tahu,
ini termasuk soundtrack film nasional Ali Topan Anak Jalanan [1977], yang
menuturkan kebahagian dan pengharap-an cerah. Simak dua bait awalnya:
"Surya gemilang di ufuk pengharapan/Pagi cemerlang di kalbu dua
insan/Sungai berliku bagai kehidupan/Dua remaja bermesraan/Lembah dan ngarai,
gunung lautan bukan hambatan. Sedang lagu pasang-annya yang dinyanyikan oleh
Chrisye, "Kala Sang Surya Tenggelam", bertutur akan kelamnya
pengharapan, Surya tenggelam ditelan kabut kelam/Senja nan muram di hati remuk
redam/Jalan berliku dalam kehidupan/Dua remaja kehilangan penawar rindu/Kasih
pujaan menempuh cobaan.
8.
God Bless
Oleh
Iman Putra Fattah
Saya
yakin tidak ada satupun band Indonesia dari generasi 70-an yang masih exist dan
berpenampilan layaknya rockstar muda selain God Bless. Bahkan di usia mereka
yang menginjak 60-an, they still rock harder than most young bands in our
generation. Saya ingat pertama kali menonton mere-ka live. Waktu itu saya duduk
di depan amplifier, memandang ke arah ribuan penonton yang memadati ruang-an
Balai Sidang [sekarang JCC]. Saya juga masih ingat bagaimana speaker amplifier
berdengung- kencang di telinga saya dan emosi. Emosi yang saya rasakan setiap
kali saya memegang gitar dan membunyikannya. Saat itu saya sadar bahwa God
Bless mengajarkan saya arti dari kata musik.
9.
Titiek Puspa
Oleh
Makki Parikesit
Tidak banyak pendukung karier
seorang artis pop di zaman Tante Titiek mulai berkarya. Belum terlalu banyak
radio dan hanya satu stasiun televisi. Tidak ada infotainment untuk memamerkan
muka sang artis, atau tabloid untuk menyebar gosip. Belum lagi struktur sosial
di zaman itu yang tidak terlalu mendukung seorang wanita berkiprah terlalu
ba-nyak di luar kapasitas tradisio-nalnya sebagai seorang homemaker. Bahwa
Tante Titiek- mampu bertahan sebagai seorang artis pop untuk selama ini, tanpa
meninggalkan kapasitas sebagai ibu dan istri berkata banyak tentang karakter
Tante Titiek dan kedalaman talenta yang dimilikinya. Tidak ada selain karya dan
personality yang kuat yang mampu membawa karier seperti yang dimiliki oleh
Tante Titiek. Karya itulah yang menjadi legacy Tante Titiek di dalam sejarah
dunia musik negeri ini.
10.
Bimbo
Oleh
Armand Maulana
Saya sering berpikir, apabila
Bimbo tak pernah merilis album religi, mungkin saya masih akan tetap menggemari
me-reka se-perti sekarang. Terus terang saya mendengar-kan materi-materi Bimbo
yang bukan bernafaskan religi tetapi pop. Menurut saya musik mereka sangat easy
listening. Dan hal yang juga membuat saya selalu salut adalah kenyataan bahwa Sam,
Acil, Jaka, dan Iin Parlina adalah kakak beradik yang perbedaan umurnya tak
jauh. Dalam stereotipe yang ada, kakak beradik pasti sering berselisih tapi
tampaknya Bimbo merupakan kasus yang berbeda. Mereka merupakan keluarga kompak
yang perpaduan suaranya sa-ngat kawin. Tak masalah mengenai religi atau bukan,
berdasarkan musikalitas Bimbo adalah sebuah grup yang pantas mendapatkan tempat
dan penghargaan di musik Indonesia.
11.
Bing Slamet
Oleh
Remy Sylado
Sebagai penyanyi dengan suara
bariton yang dipadankan dengan Bing Crosby, Bing Slamet tertempa lebih matang
se-telah ia bergabung dalam susunan inti penyanyi Orkes Studio RRI Jakarta di
bawah dirigen Sjaiful Bahri [orang ini menyeberang ke Malaysia karena alasan
politik] serta pemusik-pemusik Indonesia yang menimba pengetahuan musik dari
-ilmunya Belanda, misalnya Ismail -Marzuki dan Iskandar. Sementara kebolehan
Bing dalam -melawak, sebagai komedian yang sejati, teruji melalui lomba yang
diselenggarakan oleh majalah Ria di Gedung Kesenian -Jakarta, 29 Juli 1953. Di
situ dia memenangkan juara utama dengan julukan Bintang Pelawak. Kala itu ia
mengaku, bahwa bakat lawak baginya adalah suatu karunia yang telah mendarah
daging.
12.
Rhoma Irama
Oleh
Emil Naif
Gila, orang ini musiknya sangat
gurih! Aransemennya oke, harmoni dan melodi lagunya enak. Dari sana, ada saja
hal-hal baru yang saya dengar tentang dia. Dia pernah menjadi sampul majalah
Newsweek, disebut Pahlawan Asia dan sebagainya. Saya pikir dia salah satu musik
dangdut berkelas yang pernah ada di Indonesia. Dia sangat peduli dengan sound,
aransemen, lirik dan tema. Saya rasa dia seorang superstar. Karyanya banyak;
saya pernah baca dia main empat film di tahun 76 saja. Dia punya recording
label sendiri, -Yukawi yang kemudian berubah menjadi -Soneta Records.
13.
Fariz RM
Oleh
Otong Koil
Selain sound yang unik dan
canggih, beliau juga membangun sistem lirik dan aransemen yang cukup aduhai.
Fariz RM punya kebiasaan unik dalam mematahkan dan menyambungkan kosa kata
dalam lirik. Mungkin beliau tidak sadar akan hal tersebut, mungkin juga hanya
saya sendiri yang memikirkan hal tersebut. Menurut saya, hal inilah yang paling
penting dan tidak dimiliki oleh satu orang pun di negara ini. Kemudian saya
curi sistem tersebut dan saya bawa ke titik paling ekstrem untuk mengaransemen
karya-karya musik saya sendiri. Maafkan saya, tukang jiplak, Oom. Hehehe. Saya
tidak banyak mendengar kegiatan Fariz RM di era 90-an, walau sempat nonton
beberapa konser beliau dan bertemu untuk minta tanda ta-ngan bersama kerumunan
penggemar lainnya. Saya sempat merekam cover version Astoria, dan ingin
menunjukkannya kepada beliau. Sayang, file-nya hilang.
14.
Gombloh
Oleh
Piyu
Saya mendengar beberapa kisah
hidupnya yang menjadi legenda dari orang-orang yang pernah dekat dan mengenal
beliau seperti cerita berikut ini. Pernah dia membayar seorang perempuan
pekerja seks komersial [PSK] untuk hanya duduk di dalam studio, memandanginya
sambil memainkan gitar untuk mencari inspirasi. Mungkin itu yang tertuang dalam
lagu "Doa Seorang Pelacur" [saya kurang tahu persis], ka-rena lagu
ini memotret sistem atau jebakan terhadap para pelacur yang membuat mereka
tidak mampu keluar dari jaring laba-laba sistem pelacuran. Lalu ada juga lagu
yang tercipta dari pengamat-annya selama satu jam [pukul dua sampai tiga pagi]
terhadap seorang ibu bersama anaknya yang menggelandang di trotoar, dalam lagu
yang berjudul "3600 Detik".
15.
Ebiet G. Ade
Oleh
Jimi The Upstairs
Ketika mendengarkan kembali album
Camelia I, saya tercengang. Gila. Ternyata sejak kecil saya terbiasa
mendengarkan album sehebat ini. Puisi dan lagu Ebiet bertambah dahsyat dengan
kemasan musik Billy J Budiarjo. "Lelaki Ilham Dari Surga" adalah
nomor terbaik di album ini. Lagu yang bernuansa religius, dengan lirik jenius.
Dalam suasana-suasana tertentu, lagu ini dapat membuat saya terharu mendalam.
Untuk yang bernuansa cinta, "Episode Cinta yang Hilang" adalah
pilihan saya. Billy J Budiarjo bermain gitar dengan apik di sana.
"Kapankah akan kudengar lagi/Nyanyian angin dan -denting gitarmu",
langsung disambut dengan sekelebatan gitar. Itu adalah sebagian kecil part yang
menggoda. Walau tak dipungkiri, "Lagu Untuk Sebuah Nama" adalah
pembenaran ketika kita jadi pecundang. Dan "Camelia", waaah, Dodo
Zakaria membuat lagu ini jadi semakin megah. Ketika kecil saya tidak merasakan
semuanya sejauh ini. Yah, lebih baik terlambat menyadarinya daripada tidak sama
sekali.
16.
Gesang
Oleh
Pongki Jikustik
Sosok Gesang adalah sosok yang
sa-ngat identik dengan orang Jawa: rendah hati dan kalem. Empat atau lima tahun
yang lalu, saya pernah berada di satu acara bersama beliau di mana ia menyanyi
Bengawan Solo untuk salah satu stasiun televisi swasta. Pada saat itu suaranya
memang sudah tidak terdengar seperti penyanyi, namun saya maklum karena itu
pasti akibat faktor usia. Saya tidak sempat berbincang dengannya, saya hanya
bisa melihatnya dari jauh. Namun dari situ saya menangkap kesederhanaan dan
keramahan yang dipancarkan olehnya. Beliau datang dengan memakai baju batik,
tidak banyak bicara, sangat low profile. Kondisinya saat itu sangat sehat dan
masih bisa menyanyi. Yang saya tahu, sekarang ini keadaan Gesang secara fisik
boleh dibilang masih sangat hebat. Untuk usia seuzur beliau, fisiknya masih
bagus sekali. Ini pasti orang di atas rata-rata.
17.
Harry Roesli
Oleh
Fariz RM
Harry Roesli adalah tokoh penting
bagi karier bermusik saya. Kalau Chrisye menyadarkan saya akan sikap
profesionalitas, Yockie Suryoprayogo dalam musikalitas dan Eros Djarot
mempenga-ruhi cara berpikir saya, Harry Roesli adalah satusatunya pemusik
pribumi yang saya kagumi prinsipnya. Sebagai pribadi, Kang Harry adalah contoh
yang seharusnya menjadi pembelajaran bagi generasi musik muda nasional dalam
hal mencintai musik dan bagaimana seha-rusnya pemusik memiliki kepercayaan atas
hasil kreativitasnya sendiri. Seingat saya, Kang Harry tidak mau kompromi jika
sudah bicara soal apa yang ada di isi kepalanya. Kalau ditegur soal
kebiasaannya merokok, si Akang selalu menyahut, "Sambung menyambung
menjadi satu".
18.
Jack Lesmana
Oleh
Indra Lesmana
Kontribusi utama yang telah ayah
berikan adalah upaya dan kegigihannya dalam mengenalkan musik jazz. Segenap
aktivitasnya menjadi terobosan, perubahan dan pengaruh baru bagi perkembangan
musik di Indonesia. Ayah mendirikan grup Indonesian All Stars bersama Bubi
Chen, alm. Yopie Chen, alm. Maryono dan Benny Mustafa. Formasi ini berhasil
membuka mata dunia akan kemajuan musik jazz di Indonesia. Penampilan me-reka di
Berlin Jazz Festival pada tahun 1967 dan membuat album rekaman kolaborasi
bersama pemain clarinet jazz dunia, Tony Scott, adalah salah satu masterpiece
yang membanggakan. Prestasi yang mereka berikan menjadi bibit dari hubungan
baik program seni budaya Indonesia dengan beberapa negara luar, khususnya dalam
mendatangkan beberapa musisi jazz dari mancanegara.
19.
Ahmad Albar
Oleh
Ian Antono
Saya mengagumi karisma Achmad
Albar. Hal itu tidak bisa dibentuk karena sifatnya sangat alamiah. Ketika di
atas panggung, ia memiliki wibawa yang berbeda dengan siapa pun. Seperti halnya
kita menyaksikan aksi panggung Mick Jagger, walau diam saja di atas panggung,
orang tetap antusias melihatnya. Kira-kira seperti itulah seorang Achmad Albar.
Selain
penuh wibawa, ia juga sangat tenang saat berada di atas panggung. Terkadang
kalau saya menyanyi di depan mike dan ia ada di samping saya, suaranya bisa
lebih keras daripada saya. Jika terjadi keributan di antara penonton, de-ngan
suaranya yang keras itu ia berteriak mene-ngahi. Teriakan panitia atau polisi
selalu gagal, tapi suara Achmad Albar membuat mereka langsung berhenti.
20.
The Rollies
Oleh
Benny Soebardja
Sebenarnya jauh sebelum The Rollies
berdiri, saya sudah pernah bermain musik bareng dengan Gito di band pelajar
saya sebagai siswa SMAN 5 Bandung, sementara Gito di SMAN 2 Bandung. Menilik
musikalitas mere-ka, bagi saya The Rollies telah berhasil memberikan kontribusi
positif bagi perkembangan musik pop di Indonesia. Mereka menambahkan unsur alat
musik tiup atau brass section. Menurut saya sampai sekarang belum pernah ada
lagi band seperti Rollies, dalam arti grup yang siap untuk mengetengahkan
konsep bermusik sendiri tanpa harus meng-ikuti selera pasar. Sebuah penyikap-an
yang sangat jarang ditemukan di industri musik arus utama, terlebih pada zaman
musik sekarang. The Rollies di samping berhasil mengekspresikan musik
Indonesia, beberapa personelnya, terutama Gito dan Deddy, sungguh pandai
bermasyarakat dan bergaul dengan semua lapisan.
21.
Erros Djarot
Oleh
Yockie Suryoprayogo
Selama Erros terjun ke politik,
sebagai seniman saya merasa sangat dirugikan. Tentu yang berhubungan kerjasama
musikal saya dengan dia, selalu tidak tuntas, karena kepentingan di wilayah
kesenian berbeda dengan wilayah politik. Kesenian berbicara dengan rasa, etika,
moralitas sementara politik berbicara dengan kepentingan demi kekuasaan. Saya
selalu gamang untuk menyeret dia, ke wilayah kesenian atau wilayah politik?
Erros pun sepertinya bingung menempatkan dirinya sebagai seniman atau
politikus. Pada akhirnya saya menyadari skala prioritas Erros. Sebagai musisi,
domain saya ada di musik hingga skala prioritas pertama adalah musik sementara
Erros selama puluhan tahun domainnya politik. Otomatis skala prioritasnya
adalah politik. Saya kini memahaminya dan tidak berharap banyak. Sebagai teman
baik, saya hanya kangen sebuah karya atau konsep dari Erros Djarot- yang bisa
menjadi karya utuh se-perti album Badai Pasti Berlalu, film Cut Nyak Dhien atau
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan [PDIP] yang ikut ia desain bersama
Megawati Soekarnoputri.
22.
Yockie Suryoprayogo
Oleh
Ade Paloh
Yockie membuktikan bahwa ia
adalah agen anak muda zamannya, menjungkirbalikkan tren lama musik pop
Indonesia yang cengeng dan hipermelankolis dengan sempurna. Ia juga yang
meyakinkan Chrisye yang pada saat itu lebih dikenal sebagai pemain gitar bas
untuk bernyanyi lagu klasik Lilin-Lilin Kecil hingga menerbangkan Chrisye ke
singgasana kerajaan vokal teratas negeri ini. Yockie yang handal pada synthesizer,
tidak tinggal diam dalam kesenggangan ke-suksesan. Bosan dengan gaya jalanan,
ia berusaha memadukannya dengan sesuatu yang lebih sekolahan. Ia yang pada saat
itu belum mahir menulis notasi partitur, belajar kilat dengan maestro terkemuka
Idris Sardi yang terkenal galak dan regimental, untuk menghasilkan masterpiece
Musik Saya Adalah Saya. Imbuhan orkestra fundamental digunakan sebagai
pengganti suara synthesizer untuk membuat aransemen repertoire pop Indonesiana
hasil karya dia dan para kompatriotnya, menjadi prese-den baru untuk khazanah
musik Indonesia akhir 70-an hingga awal 80-an.
23.
Dewa 19
Oleh
Giring Nidji
Dhani pernah cerita waktu memakai
lambang Tuhan di Laskar Cinta, ada orang fanatik mendatangi Dhani dan ngomong,
Ini lambang Tuhan! Dhani cuma ngomong ke temannya, Oh, begini susahnya jadi
John Lennon. Gila! Mungkin dia banyak menulis cinta ka-rena ha-tinya percaya
bahwa cinta bisa mengubah segalanya. Mungkin cara menga-takannya berbeda.
Kadang-kadang orang menganggapnya terlalu arogan. Tapi kalau kita mengenalnya
lebih dekat, hes a very cool dude. Saat Nidji era album pertama, kami selalu
takjub ketika bertemu dengan musisi-musisi senior, selalu ingin tahu lebih
dekat. Ada yang pernah wanti-wanti ke saya, Kalau de-ngan Dhani, siap-siap sakit
hati. Tapi tidak seperti itu yang saya alami bersama Nidji. Yang membuat saya
tertawa, waktu saya salaman, dia ngomong, Lo salaman mulu. Ya sudah.
24.
Ahmad Dhani
Oleh
Ahmad Dhani
Saya beruntung sampai saat ini
saya dianugerahi oleh Allah SWT seabreg selera musik yang beraneka ragam,
se-hingga saya menikmati karya Sergei Rach-maninoff atau juga Maurice Ravel,
akibat bergaul dengan pemain orkestra saat rekaman string untuk album-album
Dewa19. Saya juga tidak tahu kenapa saya menggemari musik R&B, mungkin
mencari format musik fusion yang memudar di era 90-an, maka saya menggemari TLC
dan Faith Evans. Saya beruntung bisa alat musik kibor dan gitar sehingga
memudahkan saya memahami musik Steve Vai sekaligus musik elektronik Chemical
Brothers. Karena saya mengerti gitar, maka saya mengagumi- dan mengadopsi The
Edge dan Brian May. Dan setelah saya lakukan riset lagi, memang musisi yang
menguasai gitar dan kibor akan menghasilkan karya yang lebih beraneka ragam
ketimbang musisi yang hanya menguasai satu alat musik. Dan keberuntungan saya
yang terbesar adalah selalu mendapatkan kebetulan dalam memproduksi album.
Kebetulan dapat nada-nada bagus. Kebetulan dapat lirik-lirik komersial.
Kebetulan dapat sound-sound bagus. Kebetulan dapat ide bagus buat aransemennya.
Kebetulan ada yang beli kaset/CD-nya. Kebetulan ada yang mengaktivasi RBT-nya.
Kebetulan ada kebetulan yang lainnya.
25.
Indra Lesmana
Oleh
EQ Humania
Dalam sekilas pandang, memang
sosok Indra Lesmana sudah mendapat apresiasi yang besar dari Indonesia. Namun
menilik kualitas Indra Lesmana sebagai manusia dan musisi, khususnya sebagai
musisi jazz, ia bisa lebih maksimal dan go all the way. Saya ada di sana ketika
dalam sebuah titik di hidupnya, Indra Lesmana memutuskan untuk hidup di
Indonesia. Saya juga sering berbincang de-ngannya, bahwa sebenarnya Indonesia
membutuhkan orang-orang seperti dia. Bagi saya Indra Lesmana sudah mencapai
titik yang tinggi dalam hal pencapaian seorang musisi. Namun saya juga
menyadari bahwa dengan kemampuannya, ia akan lebih bersinar bila ada di luar
negeri, di mana ia akan kerap dikelilingi oleh orang-orang yang berlevel sama
[tanpa bermaksud merendahkan orang-orang yang ada di Indonesia tentunya]. Namun
pada ak-hirnya ia sadar bahwa ia memiliki semacam tanggung jawab moral, atau
bisa dikatakan peran, yang harus ia jalankan di sini.